Kamis, 21 Januari 2016

Madina Diblur di Google Maps


ARPM (JAKARTA) - Aliansi Rakyat Peduli Madina menulis surat dan mendatangi Google Indonesia di Tanah Abang, Jakarta, (hari dan tanggal 2016). LSM ini mempertanyakan mengapa hanya peta Mandailing Natal yang diblur di Google Maps, sementara daerah lainnya jelas terlihat dari ketinggian 20 meter.

Ardian N, Koordinator ARPM untuk wilayah Jakarta, mengatakan para pengurus Aliansi Rakyat Peduli Madina sudah melihat blurnya peta Mandailing Natal sejak setahun lalu. Setelah menunggu update 2016 hingga Januari, mereka ingin mempertanyakan latar belakang dan persoalan penyebabnya.

Aliansi Rakyat Peduli Madina menyadari Google masih memiliki keterbatasan untuk mengupdate peta. Pelayanan jelajah untuk seluruh dunia masih terdiri dari berbagai kelas. Untuk Amerika, misalnya, Google menyediakan maps tampilan 3D Earth di seluruh negara bagian, sementara di Indonesia, fasilitas tersebut baru bisa dinikmati untuk kota besar, seperti Jakarta dan Bandung.

Fasilitas Goggle Map di Sumatera umumnya baru jelajah foto. Meskipun belum 3D Earth, sudah sangat membantu mengenali dan melihat perkembangan kota dan desa. “Tapi mengapa khusus daerah Mandailing dan Natal kok blur,” kata Ardian.

Peta Mandailing Natal di Google Map blur mulai dari Malintang Jae, Bukit Malintang (0.956755, 99.524352). Sepanjang Jalan Raya Medan-Padang, daerah ini baru jelas lagi terlihat di Botung,Kotanopan (0.645603, 99.815594). Hanya belasan  kilometer lagi sebelum Sumatera Barat.

Daerah pantai Barat Mandailing Natal umumnya jelas dalam jarak pandang 20 km dari udara. Mulai dari Simpang Banyak Julu, Ulu Pungkut, (0.497258, 99.814804), Batas Kabupaten Madina dengan Ujung Gadiang, Pasaman Barat, Sumatera Barat (0.484127, 99.673496), Batahan, Ranah Batahan, Pasaman Barat, Sumatera Barat (0.461430, 99.522189) sampai dengan Natal di Pardamean Baru (0.489564, 99.122600).

Setelah Natal, Peta Mandailing Natal blur kembali ketika menjelajah Pantai Barat Sumatera. Baru terang setelah mendekati Tapanuli Tengah, di Sikapas, Muara Batang Gadis (1.219916, 98.871691) atau Batu Mundom. Muara Batang Gadis (1.277632, 98.844786).

Dari Natal ke Arah Simpang Gambir, Google Map jelas di Sikara Kara III (0.658141, 99.146126), Sikara Kara II (0.632913, 99.145084), Sundutan Tigo (0.795696, 99.328529), Lubuk Samboa (0.724352, 99.325353). Dari Simpang Gambir ke Panyabungan (Ibukota Kabupaten Mandailing Natal) blur lagi.

Batang Natal, Lingga Bayu, dan jalan arah Provinsi Sumatera Barat kembali jelas. Di Jambur Baru (0.686676, 99.332477), Perk. Simpang Gambir, Lingga Bayu (0.567809, 99.331409), Bangun Saroha, Ranto Baek (0.494517, 99.381859), dan Huta Nauli, Ranto Baek (0.456311, 99.383449).

Aliansi Rakyat Peduli Madina tidak mempersalahkan Google memblur peta Kabupaten Mandailing Natal. Tapi LSM ini bertanya, apakah ada hubungannya dengan eksplorasi tambang di Kabupaten Mandailing Natal yang pada umumnya belum berizin:

1. Ratusan penambang emas liar kini masih eksplorasi karena kerja sama yang baik antara pengusaha, Pemerintah Daerah, dan Kepolisian. Apalagi hasil dari tambang emas tersebut, puluhan dari mereka kini telah menjadi anggota DPRD, pengurus partai politik, pengusaha SPBU, pemilik sekolah dan perguruan tinggi.
2. Izin produksi PT Sorikmas Mining juga belum jelas. Perusahaan ini sudah eskplorasi mineral emas dan lainnya di Sumatera Utara sejak tahun 1998 pada lokasi 55,000 ha. Sorikmas mengidentifikasi deposit emas 1.4 juta ounces. Beroperasi di Mandailing Natal sejak Tahun 2011, perusahaan ini tidak jelas sumbangsihnya bagi apa pun di Madina.
3. PT Sorik Marapi Geothermal Power juga belum jelas izin eksplorasinya. Perusahaan ini sepertinya baru selesai membuat proposal bahwa mereka dapat menghasilkan pembangkit listrik berkapasitas 240 megawatt.  Berpotensi meraih pendapatan Rp 32,18 triliun (kurs dollar 9.000) selama 30 tahun
4. Masih banyak perusahaan tambang di Mandailing yang belum jelas, mulai dari PT M3, PT STM. PT MBL. PT AM, PT BMI. PT KM, PT PS, PT CVR, PT BME, PT A, PT MIP. PT IEC, PT BNG, PTMM, PT CI, dan PT MM.

Kondisi Mandailing Natal saat ini, kata Ardian, seperti sudah diprediksi Willem Iskander, hampir 200 tahun yang lalu:

Adong alak ruar/ na mian di Panyabungan/ tibu ia aruar/ baon ia madung busungan.

Ada orang luar/ datang ke Panyabungan/ cepat dia keluar/ karena perutnya sudah kebesaran.

Jakarta, 21 Januari 2016
Pengurus Pusat ARPM



0 komentar:

Posting Komentar